Hukum Bacaan Lam dan Ra’

Author:

Category:

spot_img

Hukum Bacaan Lam dan Ra’

 

Membaca al-Qur’an harus benar dan sesuai dengan kaidah ilmu Tajwid. Apabila salah dalam membaca akan merusak arti dan makna yang terkandung di dalamnya. Membaca al-Qur’an dengan benar juga akan menambah kekhusu’an dan menambah pahala ibadah. Selain itu nantinya akan menjadikan kita mendapat syafa’at di akhirat. Agar kita mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan benar kalian harus mempelajari Ilmu Tajwid dengan teliti. Nah pada kesempatan ini kalian akan mempelajari Ilmu Tajwid yaitu hukum bacaan Lam dan Ra.

  1. Hukum Bacaan Lam (  ل  )

Di dalam Ilmu Tajwid hukum bacaan Lam  ada dua macam, yaitu :

  1. Lam tafkhim ( تفحيم ) tebal / Mufakhkhamah.

Apabila ada huruf Lam (ل ) dalam  lafzul  jalalah ( الله ) yang didahului oleh huruf yang berharakat fathah ( ـَـ ) atau damah ( ـُـ ). Maka harus dibaca tafkhim atau tebal. Lam yang terdapat dalam lafzull Jalalah dinamakan lam jalalah. Cara mengucapkannya ialah dengan menjorokkan kedua bibir ke depan.

Contoh : – Lafzul Jalalah ( الله ) yang didahului oleh huruf yang berharakat fathah

اللهُ  –  قُلْ هُوَاللهُ أَحَدٌ  –  شَهِدَ اللهُ  –  لاَإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ معَ

–  Lafzul Jalalah (  الله  )  yang didahului oleh huruf yang  berharakat damah وَرَحْمَة ُاللهِ  –  يُؤْتِيَهمُ الله خَيْرًا  –  يُحْبِبْكُمُ اللهُ  –  عَبْدُ اللهِ .

  1. Lam Tarqiq (ترقيق ) Tipis / Muraqqaqah

Huruf Lam dibaca Tarqiq ada dalam dua keadaan, yaitu :

  1. Lam yang terdapat pada Lafzul jalalah ( الله ) dan didahului oleh huruf yang

berharakat kasrah. ( ـِـ ). Posisi mulut tidak menjorok kedepan.

Contoh : بِسْمِ اللهِ  –  فِىْ رَسُوْلِ اللهِ  –  فِىْ دِيْنِ اللهِ أَفْوَاجًا

  1. Semua Lam yang terdapat dalam lafal selain lafzul jalalah

Contoh :   وَعَلَّمَ  –  لِكُلِّ  –  لُمَزَةٍ

 

  1. Hukum Bacaan Ra (ر )

Hukum bacaan  ra ( ر ) dibagi menjadi tiga , yaitu :

  1. Ra Tafhim ( تفحيم  )  artinya  ra yang dibaca tebal .

Ra dibaca tebal. Apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Jika huruf ra berharakat fathah atau fathatain  ( رَ  /  رً )

Contoh : –  Ra difathah        رَبُّكُمْ  –  رَبِّ الْفَلَقِ –  غُفِرَلَهُ  –  اَلَمْ تَرَ :                           ر

– Ra difathatain     نَارًا –   خَيْرًا –  طَيْرًا –  شرًا                           رً

 

  1. Jika ra berharakat dammah atau dammatain ( رُ /  رٌ ) Contoh : – Ra dammah          رُزِقْنَا  –  كَفَرُوْا  –  أَكْبَرُ  –  نَصْرُاللهِ     رُ

– Ra dhammatain   غفورٌ  –  أجرٌ  –  مَبرُورٌ  –  نورٌ     رٌ

  1. Jika ra berharakat sukun jatuh sesudah huruf yang difathah atau didammah ( + رْ ـُـ / رْ +  ـَـ )

Contoh :

– Ra sukun jatuh sesudah huruf difathah ( رْ +  ـَـ ) وَأَرْسَلَ –  تَرْمِيْهِمْ  –  فَأَ ثَرْنَ بِهِ  –  وَانْحَرْ

– Ra sukun jatuh sesudah huruf didammah ( ــُ  + رْ ) تُرْحَمُوْنَ  –  مُرْسَلِيْنَ  –  قُرْآنٌ  –  مُرْتَفَقًا

  1. Jika ra berharakat sukun didahului oleh huruf yang berharakat kasrah tetapi kasrahnya tidak asli dari kalimat itu. ( رْ     ِ   / kasrah tidak asli )

Contoh :        اِرْجِعِىْ  –  اِرْكَبْ  –  اِرْحَمْنَا

  1. Jika ra berharakat sukun sedangkan huruf sebelumnya berharakat kasrah asli, namun sesudah ra sukun itu ada huruf ISTI’LA ( إسـتـعـلاء ) yang tidak dikasrah (huruf isti’la tidak dikasrah + رْ +  ِ      / kasrah asli ). Sedangkan huruf isti’la itu ialah ص –    ض  –  ط  –  ظ  –  خ  –  غ  –  ق

Contoh : قِرْطَاسٌ  –   مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ   –   مِرْصَادٌ      .

  1. Tarqiq ( ترقيق ) tipis / Muraqqaqah.

Ra tarqiq atau muraqqaqah ialah ra yang dibaca tipis. Di dalam ilmu tajwid ra ( ر )  dibaca tipis jika memenuhi persyatan-persyaratan., yaitu :

  1. Jika ra berharakat kasrah atau kasratain  ( ِر  /  ٍر )

Contoh : – Ra dikasrah    ِ      رِمَاحُكُم ْ  –  كَرِيْمٌ  –  مِنَ الرِّّجَالِ

– Ra dikasratain  ( لَفِىْ حُسْرٍ

  1. Jika ra berharakat sukun dan huruf sebelumnya berharakat kasrah  asli tetapi sesudah ra sukun  bukan huruf isti’la. (  bukan huruf isti’la +  رْ +   ـِـ       ).

Contoh : فِرْعَوْنَ  –  فَبَشِّرْهُ  –  وَأَنْذَرْبِهِ  –  مِْرفَقًا

  1. Jika ra diwaqafkan dan huruf sebelumnya ya sukun ( ra waqaf +    يْ   )

Contoh :شَيْئٍ قَدِ يْرٌ-  وَهُوَالسَّمِيْعُ الْخَبِيْر    سَمِيْع ٌبَصِيْرٌ-  لَكُم ُالْخَيْرُ

  1. Jika ra diwaqafkan dan huruf sebelumnya dikasrah ( ra waqaf + ـِـ )

Contoh :وَلاَ ناَصِرَ     –  هُوَالْكَافِرُ –  بِمُصَيْطِرٍ.

  1. Jawazul Wajhain ( جواز الوجهين ) artinya boleh dibaca tebal dan  boleh  dibaca tipis Huruf ra boleh dibaca tafkhim atau tarqiq jika ra itu disukun dan huruf sebelumnya dikasrah sedangkan setelah ra sukun itu ada huruf isti’la yang dikasrah. (huruf isti’la yang dikasrah  +  رْ +  ِ      )

Contoh :مِنْ عِرْضِهِ  –  بِحِرْصٍ

  1. Menerapkan Hukum Bacaan Lam dan Ra’ dalam Al-Quran Surah

Al-Humazah dan at-Takatsur.

Untuk lebih memperdalam pengetahuan kalian tentang hukum bacaan lam dan ra’, bukalah al-Quran dan bacalah surat al-Humazah dan at-Takatsur di bawah ini dengan memperhatikan kalimat yang mengandung hukum bacaan lam dan ra’. Ucapkanlah huruf lam dan ra’ yang ada di dalamnya sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah kalian pelajari.

 

  1. al-Humazah

وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ١  ٱلَّذِي جَمَعَ مَالٗا وَعَدَّدَهُۥ ٢  يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ٣  كَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِي ٱلۡحُطَمَةِ ٤ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ ٥  نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ٦ ٱلَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةِ ٧  إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ٨  فِي عَمَدٖ مُّمَدَّدَةِۢ ٩

 

  1. at-Takatsur

 

أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ١  حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ٢  كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ٣  ثُمَّ كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ٤  كَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ ٥  لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ ٦ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ ٧  ثُمَّ لَتُسۡ‍َٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ ٨

 

                                                  Rangkuman

  1. Hukum bacaan lam ada dua, yaitu: lam tafkhim dan lam tarqiq.
  2. Hukum bacaan ra’ ada tiga, yaitu: ra’ tarqiq; ra’ tafkhim; jawazul wajhain.
  3. Ra’ dibaca tafkhim (tebal) karena beberapa keadaan, di antaranya:
  4. Jika ra’ berharakat fathah atau fathatain
  5. Jika ra’ berharakat dhamah atau dhammatain
  6. Jika ra’ sukun jatuh setelah huruf berharakat fathah atau dhamah.
  7. Jika ra’ sukun dan huruf sebelumnya berharakat kasrah tetapi kasrahnya tidak asli dari kalimat tersebut.
  8. Jika ra’ sukun sedangkan huruf sebelumnya berharakat kasrah asli, namun sesudah ra’ sukun ada huruf isti’la ( إستعلاء ) yang tidak kasrah (huruf isti’la tidak di-kasrah)
  9. Jawazul wajhain ialah ra’ yang dapat dibaca tipis atau tebal
  10. Huruf isti’la adalah huruf-huruf yang makhraj-nya terletak pada pangkal lidah sebelah atas.[1]

 428 total views,  5 views today

Read More

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here